Perekonomian masyarakat pulau-pulau kecil di Indonesia. Namun ancaman dari aktivitas manusia bagi keberadaan ekosistem ini semakin meningkat. Oleh karena itu, mahasiswa punya peran penting dalam kelastarian terumbu karang.

“Mahasiswa bisa memiliki berbagai peran. Antara lain sebagai pemberi contoh serta mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk melestarikan terumbu karang,“ ungkap Dr Beginer Subhan, Pakar Terumbu Karang IPB University dalam diskusi yang diadakan oleh International Law Student Association Chapter Universitas Brawijaya “Let’s Speak ILSA Chapter UB  “The Future of Marine Life: Promoting Marine Conservation” beberapa waktu lalu.

Menurutnya, ancaman terhadap terumbu karang di Indonesia datang bertubi-tubi misalnya pemutihan karang pada tahun 2016 yang cukup masif dan menyebabkan kematian karang di beberapa wilayah di Indonesia. Berdasarkan data yang dikumpulkan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), ditemukan ancaman di 61 lokasi yang tersebar di 15 provinsi.

“Ancaman lain yang diakibatkan oleh manusia adalah terjadinya perubahan dan perusakan habitat, penangkapan berlebih yang merupakan wujud dari pemanfaatan sumber daya hayati tidak berkelanjutan serta akibat polusi,“ ujar Kepala Laboratorium Selam Ilmiah, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University ini.

Menurut Board of Expert Biorock Indonesia ini, pada saat ini sudah banyak usaha yang dilakukan oleh negara Indonesia untuk konservasi terumbu karang, baik dari perguruan tinggi, pemerintah dan LSM serta masyarakat.
Misalnya pada awal tahun akhir tahun 1999an, IPB University mengembangkan teknik restorasi terumbu karang yaitu tranplantasi karang bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Asosiasi Eksportir Karang Indonesia. Pemerintah juga secara aktif membuat daerah konservasi laut yang sampai saat ini sudah mencapai lebih dari 24 juta hektar.

“Mudah-mudahan daerah konservasi atau MPA ini terus bertambah sehingga semakin banyak laut dan ekosistem pesisir seperti mangrove dan lamun dilindungi,“ ungkap Asesor Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) bidang Penilaian Terumbu Karang ini. (**/SW/Zul)

Ikan karang berasosiasi dengan terumbu karang sehingga terumbu karang disebut sebagai rumah ikan. Asosiasi tersebut disebabkan selain tempat memijah, terumbu karang juga dianggap sebagai tempat asuhan.

“Kondisi dan karakteristik terumbu karang di pelosok Indonesia berbeda. Di selatan Indonesia, formasi terumbu karang dipengaruhi rugositas tinggi diakibatkan celah antara terumbu karang yang berbeda,” papar Dr Beginer Subhan dalam Instagram Live
‘Sudut Terumbu’ edisi kedua (06/06).

Dosen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) IPB University ini menjelaskan bahwa kehadiran suatu organisme dipengaruhi banyak faktor. Genetika dianggap sebagai salah satu sarana untuk membantu mempelajari ekologi. Tetapi genetic connectivity memerlukan kolaborasi yang menjangkau seluruh Indonesia secara kuat.

Untuk itu, Dr Beginer bersama peneliti IPB University lainnya menggaungkan ‘Indonesian Maritime Genetic Network’. Tujuannya agar peneliti di berbagai perguruan tinggi dapat mendukung dengan kesadaran bersama.

“Para penyelam sebenarnya lebih jeli melihat perubahan ekosistem laut, seperti adanya organisme yang baru atau hilang. Untuk itu, perlu adanya sinergi antara penyelam dan masyarakat,” ungkapnya.  Oleh karena itu, selain aktif sebagai dosen di Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPIK) IPB University, Dr Beginer juga ikut bergabung di komunitas penyelam.

“Bukan hanya genetik ikan karang yang perlu diamati, namun juga biota laut. Indonesia terlalu besar apabila diurus oleh sekelompok orang. Peneliti harus merangkul semua pihak. Kita harus bersama-sama menjawab permasalahan dan peran penting terumbu karang bagi Indonesia. Kuncinya adalah kolaborasi dan saling percaya untuk kebaikan terumbu karang,” terang Pakar Terumbu Karang IPB University ini. (Ghinaa/Zul)

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya alam yang luar biasa melimpah, terutama di bawah laut. Namun demikian, belum ada praktik dan fasilitas yang tepat untuk menjelajah lebih jauh mengenai kenaekaragaman yang ada. Selain itu, isu lingkungan juga kian mengancam keberadaan berbagai spesies bawah laut.

Dr Beginer Subhan, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (ITK) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) pekan lalu hadir dalam kegiatan e-IPB Talk on Complexity and Sustanability Sciences ke-62 yang diselenggarakan oleh Direktorat Program Internasional IPB University untuk menyampaikan mengenai penggunaan eDNA sebagai biomonitoring. Sebuah teknologi generasi masa depan untuk mengeksplorasi biodiversitas di kawasan konservasi laut Indonesia.

Ia menyebutkan bahwa kawasan konservasi laut di Indonesia sebagian besar berkaitan dengan ekosistem terumbu karang. Kondisi ekosistem terumbu karang saat ini telah mengalami perubahan yang signifikan. Kegiatan overfishing dan polusi laut menjadi penyebab utama terancamnya 93 persen keutuhan terumbu karang di Indonesia.

“Dengan adanya kawasan konservasi laut yang dikelola dengan sistem zona akan memastikan pengelolaan sumberdaya perikanan dan lingkungan yang berkelanjutan. Pembagian kawasan konservasi laut di Indonesia cukup rumit dan kompleks, namun pada dasarnya dibagi atas zona wilayah. Kawasan tersebut yakni terbagi atas kawasan konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil, kawasan konservasi maritim, dan kawasan konservasi laut. Di dalam kawasan konservasi laut terdapat zona wilayah yang khusus dibandingkan kawasan lainnya yakni zona perikanan berkelanjutan,” terangnya.

Baca Juga :  Ini Dia 4 Bidang Ilmu Unggulan IPB University Menurut QS WUR By Subject

Menurutnya, pemerintah Indonesia telah memiliki target untuk tahun 2020-2024 terkait kawasan konservasi dikembangkan menjadi 32,5 juta hektar. Adapun target tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kawasan konservasi laut tersebar sangat luas dan masih banyak di antaranya yang dikelola oleh pemerintah daerah. Ia ingin mengajak semua pihak untuk melihat dampak dari kawasan konservasi laut untuk meningkatkan sumberdaya dan mendukung ekonomi di wilayah tersebut.

“Sehingga menjadi perhatian bersama bagi semua pihak untuk menggunakan sumberdaya yang cocok untuk melakukan monitoring terhadap biodiversitas di kawasan konservasi yang luas namun terpisah-pisah,” jelasnya.

Ia menawarkan teknologi masa depan yakni eDNA biomonitoring yang bisa dimanfaatkan tidak hanya bagi ikan namun juga untuk spesies terumbu karang di kawasan konservasi. Serta bagi spesies invasif di beberapa kawasan yang dapat mengancam keberadaan spesies lokal.

Keuntungan teknologi eDNA tersebut juga karena dapat digunakan pada wilayah yang sulit dikunjungi seperti di wilayah pertambangan.
Dengan penerapan pilot project, kita dapat mengetahui kecepatan perkembangan biodiversitas di kawasan konservasi. Selain itu dampak negatif seperti spill over dapat dideteksi untuk mengukur kesuksesan kawasan konservasi laut. Hal tersebut juga menjadi mudah karena teknologi eDNa dapat mengetahui koneksi antara jarak migrasi spesies dan dampak lingkungannya.

“Teknologi eDNA biomonitoring tersebut menjadi salah satu alat yang penting untuk menyelidiki status biodiversitas pada deteksi awal, serta status spesies di kawasan tersebut,” tambahnya.

Penelitian eDNA monitoring telah diuji coba di Kepulauan Seribu dengan melakukan analisis terhadap sampel air laut. Data yang didapatkan tidak hanya terkait informasi mengenai spesies ikan yang baru namun beberapa biota lainnya serta spesies introduksi dari luar negeri. Tentunya, dengan menggunakan eDNA, analisis yang dilakukan dapat dikerjakan dengan cara yang efektif dan efisien.

“Penggunaan databasenya di masa depan dapat meningkatkan keakuratan taksonomi, menginvestigasi keterkaitan lanjutan antara populasi  dan aktivitas perikanan, membandingkan hasil eDNA dengan perikanan dan sensus visual bawah laut,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut dihadirkan pula Dr Brock Bergseth dari James Cook University demi membahas mengenai cara memahami dan mempengaruhi tingkah laku nelayan di kawasan konservasi laut. (MW/Zul)

 

Sumber:

http://www.dikti.kemdikbud.go.id/kabar-dikti/kampus-kita/dosen-ipb-university-jelaskan-penerapan-teknologi-masa-depan-edna-biomonitoring-untuk-deteksi-awal-biodiversitas-laut/

 

Jawa Timur merupakan tempat yang menarik untuk diselami dan belum banyak dieksplorasi titik-titik selamnya. Untuk itu, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University kembali menggelar Kisah Selam (12/6). Kisah Selam kali ini mengangkat judul “Pesona Bawah Laut Ujung Timur Jawa Dwipa”. Narasumber yang hadir adalah Pratama Diffi Samuel dari Fisheries Diving School (FDS) Universitas Brawijaya dan Busyairi dari Bangsring Underwater.

“Titik selam di Jawa Timur antara lain Pulau Bawean, Pulau Gili Genteng dan Pasir Putih Probolinggo. Namun pada saat ini aktivitas pariwisata underwater yang menjadi ikon adalah Bangsring Underwater atau yang sering dikenal dengan Bunder. Bisa dikatakan bahwa Bangsring merupakan contoh kecil atau outlook nya pariwisata selam di Jawa Timur,” ujar Diffi.

Menurutnya, salah satu keunikan dari wisata selam Bangsring Underwater adalah kegiatan di sana dikelola oleh para nelayan yang dahulunya menjadi bagian penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.

“Dulu kami pernah berkontribusi untuk kerusakan terumbu karang. Alhamdulillah sekarang kami sadar dan mencoba berkontribusi untuk keselamatan terumbu karang di daerah kami. Saat ini kami sedang berusaha melakukan restorasi terumbu karang di daerah Bangsring,” ujar Busyairi.

Melihat fenomena ini, Beginer Subhan, Pakar Terumbu Karang yang merupakan dosen IPB University mengatakan bahwa pengalaman dari teman-teman di Bangsring mengajarkan kepada kita bahwa masyarakat bisa berubah dari yang berkontribusi negatif atau merusak lingkungan menjadi bagian penyelamat lingkungan.

“Perlu waktu untuk mengedukasi masyarakat dan kita tidak boleh lelah dan hadir di antara mereka untuk mewujudkan wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” pungkas Kepala Laboratorium Selam Ilmiah ITK IPB University ini. (**/flv/Zul)

Published Date : 23-Jun-2020

Narasumber : Beginer Subhan

Kata kunci : Bangsring Underwater, Wisata Selam, FPIK IPB University, dosen IPB

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University melalui Marine Science and Technology Diving School (MSTDS) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan (Himiteka) serta Komunitas ITC 2018 menyelenggarakan Kisah Selam seri ketujuh (24/6). Diskusi daring ini mengangkat tema “Memotret di Bawah Laut: Wide Angle dan Macro dengan pembicara dua orang fotografer bawah laut yakni Surya Alamsyah dan Theresia Widya yang dipandu oleh Dondy Arafat, dosen IPB University.

“Fotografi bawah air merupakan bagian penting dalam dokumentasi keanekaragaman laut di Indonesia. Biasanya para fotografer mengambil gambar biota atau momen tertentu dari biota laut. Kolaborasi peneliti atau akademisi dengan para fotografer bawah laut dalam bentuk citizen science dapat berkontribusi dalam menguak hidden biodiversity di Indonesia,” ungkap Beginer Subhan, dosen IPB University yang merupakan pakar terumbu karang sekaligus instruktur selam MSTDS.

Pada kesempatan ini, Surya Alamsyah menyampaikan tentang cara atau teknik pengambilan foto secara wide angle sedangkan Widya memberikan materi tentang macro photography. Kedua pembicara pada awal materi sama-sama menyatakan bahwa sebelum memulai fotografi bawah laut, para penyelam sebaiknya sudah memiliki kemampuan selam yang baik terutama terkait neutral buoyancy dan teknik selam lainnya agar pengambilan gambar dan proses penyelaman nyaman dan mendapatkan foto yang bagus.

“Tantangan wide angle adalah ketika tingkat kejernihan air yang rendah karena banyak partikel yang melayang di air. Bagaimana supaya hasil foto kita jernih dan partikel tidak terlihat kuncinya memang kamera kita harus di-setting secara manual dan kita harus berani mencoba berbagai variasi pengaturan kamera untuk mendapatkan hasil maksimal dari kamera. Dengan sering mencoba, kita pasti akan mendapatkan pengaturan yang terbaik dan paling maksimal untuk kamera yang kita miliki,” imbuh Divepro Scuba School Internasional ini.

Sementara itu, Widya memilih berbagi pengalamannya tentang fotografi macro dengan menggunakan kamera compact (saku). Selain kecil dan ringan, penggunaan kamera tipe saku tidak membutuhkan bantuan orang lain saat dibawa ke bawah air serta mudah digunakan di dalam air.

“Awal-awal saya bawa kamera memang agak kesulitan dan kamera saya hilang terbawa arus. Karena waktu itu, skill selam saya masih belum memadai untuk membawa kamera. Saya menyarankan sebelum membawa alat apapun, misalnya kamera, sebaiknya para penyelam meningkatkan skill selam dahulu. Ini penting untuk keselamatan penyelam sendiri,” tegas anggota komunitas ITC 2018 ini. (**/Han/Zul)

 

 

Published Date : 26-Jun-2020

Narasumber : Beginer Subhan

Kata kunci : Fotografi Bawah Laut, Kisah Selam, Departemen ITK, FPIK, IPB University, dosen IPB

Sejarah penelitian terumbu karang di Indonesia, salah satunya di mulai dari penelitian transplantasi karang yang dilakukan di IPB University. Di IPB University sendiri, penelitian terumbu karang telah dimulai antara tahun 1997-1998. Tokoh peneliti karang IPB University yaitu Prof Dedi Sudarma.

Hal ini disampaikan Beginer Subhan, dosen IPB University, Co-Founder Biorock Indonesia, Co-Founder Whale Shark Indonesia saat menjadi narasumber dalam The Ocean Voice “20 Tahun Riset Transplantasi Karang di Indonesia” yang digelar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), IPB University (7/6).

Pada awalnya, penelitian tentang transplantasi karang masih dipertanyakan. Awal penelitian karang menggunakan karang polip besar seperti lobophilia, catalophilia dan sebagainya.

Penelitian karang jarang dilakukan karena salah satu harga karang tersebut masih relatif mahal saat itu.
IPB University menjadi pioneer yang berperan dalam sejarah perkembangan terumbu karang di Indonesia. Penelitian-penelitian yang dilakukan terkait dengan spons dan soft coral memiliki manfaat untuk obat-obatan. Prof Dedi Sudarma yang merupakan penggagas dari penelitian karang di IPB University sudah memiliki hak paten dalam teknik transplantasi karang. Yaitu teknik pemotongan karang hias dengan menggunakan gerinda. Tahun 2005 di Pulau Seribu, IPB University melatih nelayan memotong dengan menggunakan gerinda,” tuturnya.

Menurutnya, penelitian tentang transplantasi karang tidak hanya dilakukan di laut. Penelitian pertumbuhan karang sudah dicoba dilakukan di kolam dan sudah berhasil dilakukan. Namun karena publikasi penelitian waktu itu masih belum banyak dilakukan sehingga banyak hasil riset-riset yang tidak terpublikasi. Selain itu pernah juga dilakukan penelitian terkait dengan tentang apakah transplantasi karang bisa bereproduksi atau tidak.

“Untuk itu, di era saat ini, perlu ada publikasi terkait transplantasi terumbu karang di daerah masing-masing sehingga dapat diketahui potensi dari karang pada wilayah tersebut,” tambahnya.

Selain itu, kegiatan explore karang hias perlu memanfaatkan potensi dari transplantasi karang untuk mengembangkan komoditas terumbu karang sebagai karang hias. Selain itu, perhatian terhadap aspek fisiologi seperti suhu yang menyebabkan bleaching juga perlu dilakukan. Akan tetapi kebanyakan orang meneliti terkait dengan aspek pertumbuhan karang. Ini karena penelitian untuk melihat pertumbuhan terumbu karang lebih mudah dibandingkan dengan penelitian tentang aspek fisiologis karang yang memerlukan waktu yang relatif lama dalam pengamatan.

“Pada tahun 2008, hampir seluruh perairan Indonesia sudah menerapkan transplantasi karang. Kolaborasi perguruan tinggi, farm dan pengusaha bisa menjadi jembatan untuk eksportir terumbu karang sehingga tidak menimbulkan konflik serta dapat saling bersinergi,” tambahnya.
Saat ini, sedikit sekali penelitian terkait dengan marine debrish dan karang. Sehingga perlu dikembangkan penelitian terkait topik tersebut agar menghasilkan penelitian yang inovatif dan terkait dengan isu terkini. Contohnya, hasil dari transplantasi karang yang sudah dilakukan dapat dimanfaaatkan untuk mengurangi pengambilan karang hias di alam dan suplai obat. Transplantasi bukan hanya berfokus pada karang saja, tetapi dapat juga dari spons.

Penggunaan metode dari penelitian terumbu karang masih belum diketahui mana metode penelitian yang bagus, hal ini karena tergantung dari kondisi lingkungan serta hal utama yang paling penting dalam transplantasi karang yaitu perawatan dari transplantasi karang yang dilakukan.

Transplantasi merupakan proses awal. Proses lanjutan yang akan dilakukan yaitu restorasi karang tersebut. Restorasi dan rehabilitasi terumbu karang memiliki proses yang panjang sehingga perlu untuk monitoring karang tersebut.
“Berbicara tentang transplantasi karang memang selalu tidak lepas dari bisnis dari karang tersebut. Hal ini karena karang hias memiliki nilai jual yang tinggi. Hal lain yang tidak kalah penting dari terumbu karang yaitu terumbu karang merupakan ekosistem yang penting bagi lingkungan karena pada daerah tersebut termasuk daerah nursery dan pemijahan bagi ikan-ikan karang yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi,” tandasnya. (**/flv/Zul)

 

 

Published Date : 23-Jun-2020

Narasumber : Prof Dedi Sudarma, Beginer Subhan

Kata kunci : Terumbu Karang, Ikan Hias, Departemen ITK, FPIK, IPB University, dosen IPB

Laboratorium Selam Ilmiah (Lab SI) Divisi Hidrobiologi Laut Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University ajari tiga anak SD, SMP dan SMA teknik menyelam. Program ini masih baru bagi Lab SI, sebelumnya pelatihan menyelam ini hanya diberikan kepada mahasiswa atau dosen IPB University terutama yang mengambil mata kuliah selam ilmiah.

Hal ini disampaikan Kepala Lab SI, Beginer Subhan saat memperkenalkan program ini di Kampus Dramaga, Bogor (20/7). Menurutnya pelatihan selam dapat diberikan pada anak berusia minimal 10 tahun dengan persetujuan orang tua mereka tentunya.

Pelatihan selam dilakukan dalam tiga bagian yakni sesi akademik, sesi kolam dan sesi open water. Tiga sesi ini merupakan bagian yang tak terpisahkan yang harus dilalui oleh setiap peserta.

“Sebelum memulai pelatihan setiap peserta harus menyampaikan pernyataan tentang kesehatan dan sejarah kesehatan dan diketahui oleh orang tua atau wali,” tambah Dondy Arafat, Instruktur Selam dari Laboratorium Selam Ilmiah IPB University.

Materi selam Open Water Diver yang diberikan mengikuti standar IS0 24801-2 tentang Recreational Diving Services. Skill yang disampaikan dan diajarkan antara lain, cara membersihkan menggunakan masker snorkel dan alat-alat SCUBA, berbagi udara, cara melepas dan memasang alat SCUBA di dalam air, buoyancy, cara merawat alat, dan skill lainnya.

“Alasan kami mengijinkan dan meminta pelatihan selam adalah ada keinginan kami untuk bisa menyelam bersama anak-anak. Saya surprise melihat antusias anak-anak dalam mengikuti sesi kolam ini, tidak terlihat suasana tegang bahkan mereka sangat menikmati pemberian materi selam dari instruktur,” ungkap Maretha, salah satu orang tua peserta. (**/Zul)

 

Published Date : 25-Jul-2019

Narasumber : Dondy Arafat

Kata kunci : Lab Selam Ilmiah, Pelatihan Menyelam, SCUBA, Open Water Diver, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan FPIK, IPB University

IPB University menginisiasi Gerakan Selam Bagi Peyandang Disabilitas belum lama ini. IPB University bersama Forum Rektor Indonesia (FRI) melalui program Revolusi Mental yang diusung oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mengadakan webinar dan pelatihan menyelam dengan spesialisasi khusus pendamping penyandang disabilitas.

Direktur Kemahasiswaan dan Pengembangan Karir IPB University, Dr Alim Setiawan menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dari Gerakan Indonesia Mandiri dimana IPB University melaksanakan kegiatan CEO School dan IPB Voice Over.

“Kebetulan juga pelatihan ini digelar berdekatan dengan peringatan hari Disabilitas Internasional tanggal 3 Desember 2020 lalu,”tambahnya.

Dondy Arafat salah satu instruktur selam menyatakan bahwa siapapun bisa belajar selam asal ada keinginan dan mematuhi standar keamanan dan keselamatan.

“Kegiatan selam dan disabilitas memang sudah dilakukan sejak lama namun masih bersifat eventual saja. Hal ini karena sumber daya instruktur dan pendamping belum banyak tersedia, dimana kegiatan masih terkonsentrasi di Bali. Kami menyambut baik ketika IPB University mengadakan pelatihan untuk instruktur dan pendamping selam bagi penyandang difabel,” ujar instruktur trainer untuk instruktur dan pendamping penyelam difabel dari Bali ini.

Sementara itu, menurut Beginer Subhan, dosen IPB University yang juga Kepala Laboratorium Selam Ilmiah dan Pakar Terumbu Karang, IPB University menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang memiliki instruktur selam yang bisa menyelenggarakan pendidikan selam bagi penyandang difabel. (**/Zul)

 

Published Date : 16-Dec-2020

Narasumber : Dr Alim Setiawan, Beginer Subhan

Kata kunci : Selam, Difabel, IPB University, dosen IPB

Marine Science and Technology Diving School (MSTDS) IPB University mengadakan sertifikasi spesialisasi secara online. Sertifikasi online ini digelar oleh Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), (9/4) dan diikuti 15 orang peserta dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, alumni dan masyarakat umum yang berasal dari berbagai daerah.
“Sertifikasi spesialisasi yang dilakukan adalah Science of Diving (SOD) sehingga memang tidak memerlukan kegiatan lapangan. Tapi spesialisasi ini diperlukan oleh setiap penyelam terutama yang akan melanjutkan karir di dunia penyelaman secara profesional,” ungkap Beginer Subhan selaku Kepala Laboratorium Selam Ilmiah Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University.
Menurut pakar Terumbu Karang IPB University ini, hadirnya program ini tidak lepas dari dukungan Scuba School Internasional (SSI) yang memberikan program pelatihan gratis untuk material dan sertifikasi pada spesialisasi SOD. Keistimewaan dari pelatihan ini adalah dapat diikuti oleh berbagai level penyelaman dan boleh dari agensi lain di luar SSI.
“Sehingga kami mengajak para mahasiswa dan komunitas selam untuk mengikuti pelatihan ini,” ujarnya.
Sementara itu, menurut Marthen Welly alumni ITK IPB University sekaligus Instruktur Pelatihan, materi sertifikasi meliputi ilmu pengetahuan dasar yang terkait dengan kegiatan penyelaman yang dikupas lebih mendalam sehingga dapat menjadi bekal untuk jenjang berikutnya. Teori dasar seperti hukum fisika penyelaman, pengaruh kegiatan selam terhadap fisiologi manusia, dan kehidupan bawah laut dijelaskan secara mendalam.
“Pelaksanaan kegiatan ini memakan waktu cukup singkat yaitu kurang lebih tiga hingga enam jam,” imbuhnya.
Para peserta menyambut baik kegiatan pelatihan ini. “Saya sangat senang mengikuti pelatihan ini, banyak memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang kegiatan penyelaman dan membuat kami menjadi produktif,” ungkap Wijdan, mahasiswa ITK. (**/Zul)
Keyword: ITK, FPIK, Sertifikasi Spesialisasi Penyelaman, SSI, IPB University

Indonesia sudah dikenal sebagai tempat tujuan wisata bahari sejak lama. Industri wisata selam dan snorkling sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan tersebut bahkan beberapa lokasi selam menjadi top destinasi kelas dunia.

Untuk menjawab tantangan masa depan tentang kegiatan wisata bahari berkelanjutan sekaligus dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) 2020, Marine Science and Technology Diving School (MSTDS) Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) IPB University bekerjasama dengan Komunitas Selam ITC 018 melakukan diskusi dengan judul Kisah Selam Dive 3 (5/6). Kegiatan ini mengambil topik  “Menuju Industri Wisata Selam dan Snorkling Berkelanjutan”.

Diskusi online ini dihadiri kurang lebih 150 orang dari berbagai daerah di Indonesia yang terdiri  operator selam, dosen, penyelam profesional, peneliti dan mahasiswa.

Kegiatan ini menghadirkan Marthen Welly dari Coral Triangle Center dan sekaligus koordinator Greenfins Indonesia. Marthen menyampaikan bahwa pada saat ini, di tingkat dunia sudah banyak acuan yang bisa dipakai untuk menjadi panduan pelaksanaan industri selam berkelanjutan salah satunya yang dikembangkan oleh Greenfins.

Selanjutnya lulusan pascasarjana Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Lautan (SPL) IPB University  ini menerangkan bahwa Greenfins yang diinisiasi oleh United Nation Environment Programme (UNEP) ini merupakan gerakan sosial yang mengkampanyekan aktivitas wisata selam dan snorkling berkelanjutan yang sudah diimplementasikan di negara lain di dunia.

“Penting dan perlu untuk pelaku dan pengguna manfaat di industri wisata selam dan snorkling untuk mengetahui dan menjalankan hal-hal apa yang sudah dijalankan secara internasional dan tujuan akhirnya kegiatan wisata yang berkelanjutan,” imbuh anggota luar biasa Fisheries Diving Club (FDC) IPB University ini.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Laboratorium Selam Ilmiah ITK IPB University, Beginer Subhan, “Lingkungan khususnya terumbu karang merupakan modal dan menjadi atraksi utama sehingga praktek-praktek yang mendukung kelestarian kedua hal tersebut juga menjadi hal utama dan ini merupakan salah satu pencapaian SDG 14 Life Below Water,” ungkap dosen IPB University  yang merupakan pakar terumbu karang Indonesia ini. (**/Zul)

 

Published Date : 08-Jun-2020

Narasumber : Beginer Subhan

Kata kunci : Snorkling, Diving, Departemen ITK, IPB University, terumbu karang, dosen IPB, SDG 14, life below water