Jawa Timur merupakan tempat yang menarik untuk diselami dan belum banyak dieksplorasi titik-titik selamnya. Untuk itu, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University kembali menggelar Kisah Selam (12/6). Kisah Selam kali ini mengangkat judul “Pesona Bawah Laut Ujung Timur Jawa Dwipa”. Narasumber yang hadir adalah Pratama Diffi Samuel dari Fisheries Diving School (FDS) Universitas Brawijaya dan Busyairi dari Bangsring Underwater.

“Titik selam di Jawa Timur antara lain Pulau Bawean, Pulau Gili Genteng dan Pasir Putih Probolinggo. Namun pada saat ini aktivitas pariwisata underwater yang menjadi ikon adalah Bangsring Underwater atau yang sering dikenal dengan Bunder. Bisa dikatakan bahwa Bangsring merupakan contoh kecil atau outlook nya pariwisata selam di Jawa Timur,” ujar Diffi.

Menurutnya, salah satu keunikan dari wisata selam Bangsring Underwater adalah kegiatan di sana dikelola oleh para nelayan yang dahulunya menjadi bagian penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.

“Dulu kami pernah berkontribusi untuk kerusakan terumbu karang. Alhamdulillah sekarang kami sadar dan mencoba berkontribusi untuk keselamatan terumbu karang di daerah kami. Saat ini kami sedang berusaha melakukan restorasi terumbu karang di daerah Bangsring,” ujar Busyairi.

Melihat fenomena ini, Beginer Subhan, Pakar Terumbu Karang yang merupakan dosen IPB University mengatakan bahwa pengalaman dari teman-teman di Bangsring mengajarkan kepada kita bahwa masyarakat bisa berubah dari yang berkontribusi negatif atau merusak lingkungan menjadi bagian penyelamat lingkungan.

“Perlu waktu untuk mengedukasi masyarakat dan kita tidak boleh lelah dan hadir di antara mereka untuk mewujudkan wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” pungkas Kepala Laboratorium Selam Ilmiah ITK IPB University ini. (**/flv/Zul)

Published Date : 23-Jun-2020

Narasumber : Beginer Subhan

Kata kunci : Bangsring Underwater, Wisata Selam, FPIK IPB University, dosen IPB

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University melalui Marine Science and Technology Diving School (MSTDS) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan (Himiteka) serta Komunitas ITC 2018 menyelenggarakan Kisah Selam seri ketujuh (24/6). Diskusi daring ini mengangkat tema “Memotret di Bawah Laut: Wide Angle dan Macro dengan pembicara dua orang fotografer bawah laut yakni Surya Alamsyah dan Theresia Widya yang dipandu oleh Dondy Arafat, dosen IPB University.

“Fotografi bawah air merupakan bagian penting dalam dokumentasi keanekaragaman laut di Indonesia. Biasanya para fotografer mengambil gambar biota atau momen tertentu dari biota laut. Kolaborasi peneliti atau akademisi dengan para fotografer bawah laut dalam bentuk citizen science dapat berkontribusi dalam menguak hidden biodiversity di Indonesia,” ungkap Beginer Subhan, dosen IPB University yang merupakan pakar terumbu karang sekaligus instruktur selam MSTDS.

Pada kesempatan ini, Surya Alamsyah menyampaikan tentang cara atau teknik pengambilan foto secara wide angle sedangkan Widya memberikan materi tentang macro photography. Kedua pembicara pada awal materi sama-sama menyatakan bahwa sebelum memulai fotografi bawah laut, para penyelam sebaiknya sudah memiliki kemampuan selam yang baik terutama terkait neutral buoyancy dan teknik selam lainnya agar pengambilan gambar dan proses penyelaman nyaman dan mendapatkan foto yang bagus.

“Tantangan wide angle adalah ketika tingkat kejernihan air yang rendah karena banyak partikel yang melayang di air. Bagaimana supaya hasil foto kita jernih dan partikel tidak terlihat kuncinya memang kamera kita harus di-setting secara manual dan kita harus berani mencoba berbagai variasi pengaturan kamera untuk mendapatkan hasil maksimal dari kamera. Dengan sering mencoba, kita pasti akan mendapatkan pengaturan yang terbaik dan paling maksimal untuk kamera yang kita miliki,” imbuh Divepro Scuba School Internasional ini.

Sementara itu, Widya memilih berbagi pengalamannya tentang fotografi macro dengan menggunakan kamera compact (saku). Selain kecil dan ringan, penggunaan kamera tipe saku tidak membutuhkan bantuan orang lain saat dibawa ke bawah air serta mudah digunakan di dalam air.

“Awal-awal saya bawa kamera memang agak kesulitan dan kamera saya hilang terbawa arus. Karena waktu itu, skill selam saya masih belum memadai untuk membawa kamera. Saya menyarankan sebelum membawa alat apapun, misalnya kamera, sebaiknya para penyelam meningkatkan skill selam dahulu. Ini penting untuk keselamatan penyelam sendiri,” tegas anggota komunitas ITC 2018 ini. (**/Han/Zul)

 

 

Published Date : 26-Jun-2020

Narasumber : Beginer Subhan

Kata kunci : Fotografi Bawah Laut, Kisah Selam, Departemen ITK, FPIK, IPB University, dosen IPB

Sejarah penelitian terumbu karang di Indonesia, salah satunya di mulai dari penelitian transplantasi karang yang dilakukan di IPB University. Di IPB University sendiri, penelitian terumbu karang telah dimulai antara tahun 1997-1998. Tokoh peneliti karang IPB University yaitu Prof Dedi Sudarma.

Hal ini disampaikan Beginer Subhan, dosen IPB University, Co-Founder Biorock Indonesia, Co-Founder Whale Shark Indonesia saat menjadi narasumber dalam The Ocean Voice “20 Tahun Riset Transplantasi Karang di Indonesia” yang digelar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), IPB University (7/6).

Pada awalnya, penelitian tentang transplantasi karang masih dipertanyakan. Awal penelitian karang menggunakan karang polip besar seperti lobophilia, catalophilia dan sebagainya.

Penelitian karang jarang dilakukan karena salah satu harga karang tersebut masih relatif mahal saat itu.
IPB University menjadi pioneer yang berperan dalam sejarah perkembangan terumbu karang di Indonesia. Penelitian-penelitian yang dilakukan terkait dengan spons dan soft coral memiliki manfaat untuk obat-obatan. Prof Dedi Sudarma yang merupakan penggagas dari penelitian karang di IPB University sudah memiliki hak paten dalam teknik transplantasi karang. Yaitu teknik pemotongan karang hias dengan menggunakan gerinda. Tahun 2005 di Pulau Seribu, IPB University melatih nelayan memotong dengan menggunakan gerinda,” tuturnya.

Menurutnya, penelitian tentang transplantasi karang tidak hanya dilakukan di laut. Penelitian pertumbuhan karang sudah dicoba dilakukan di kolam dan sudah berhasil dilakukan. Namun karena publikasi penelitian waktu itu masih belum banyak dilakukan sehingga banyak hasil riset-riset yang tidak terpublikasi. Selain itu pernah juga dilakukan penelitian terkait dengan tentang apakah transplantasi karang bisa bereproduksi atau tidak.

“Untuk itu, di era saat ini, perlu ada publikasi terkait transplantasi terumbu karang di daerah masing-masing sehingga dapat diketahui potensi dari karang pada wilayah tersebut,” tambahnya.

Selain itu, kegiatan explore karang hias perlu memanfaatkan potensi dari transplantasi karang untuk mengembangkan komoditas terumbu karang sebagai karang hias. Selain itu, perhatian terhadap aspek fisiologi seperti suhu yang menyebabkan bleaching juga perlu dilakukan. Akan tetapi kebanyakan orang meneliti terkait dengan aspek pertumbuhan karang. Ini karena penelitian untuk melihat pertumbuhan terumbu karang lebih mudah dibandingkan dengan penelitian tentang aspek fisiologis karang yang memerlukan waktu yang relatif lama dalam pengamatan.

“Pada tahun 2008, hampir seluruh perairan Indonesia sudah menerapkan transplantasi karang. Kolaborasi perguruan tinggi, farm dan pengusaha bisa menjadi jembatan untuk eksportir terumbu karang sehingga tidak menimbulkan konflik serta dapat saling bersinergi,” tambahnya.
Saat ini, sedikit sekali penelitian terkait dengan marine debrish dan karang. Sehingga perlu dikembangkan penelitian terkait topik tersebut agar menghasilkan penelitian yang inovatif dan terkait dengan isu terkini. Contohnya, hasil dari transplantasi karang yang sudah dilakukan dapat dimanfaaatkan untuk mengurangi pengambilan karang hias di alam dan suplai obat. Transplantasi bukan hanya berfokus pada karang saja, tetapi dapat juga dari spons.

Penggunaan metode dari penelitian terumbu karang masih belum diketahui mana metode penelitian yang bagus, hal ini karena tergantung dari kondisi lingkungan serta hal utama yang paling penting dalam transplantasi karang yaitu perawatan dari transplantasi karang yang dilakukan.

Transplantasi merupakan proses awal. Proses lanjutan yang akan dilakukan yaitu restorasi karang tersebut. Restorasi dan rehabilitasi terumbu karang memiliki proses yang panjang sehingga perlu untuk monitoring karang tersebut.
“Berbicara tentang transplantasi karang memang selalu tidak lepas dari bisnis dari karang tersebut. Hal ini karena karang hias memiliki nilai jual yang tinggi. Hal lain yang tidak kalah penting dari terumbu karang yaitu terumbu karang merupakan ekosistem yang penting bagi lingkungan karena pada daerah tersebut termasuk daerah nursery dan pemijahan bagi ikan-ikan karang yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi,” tandasnya. (**/flv/Zul)

 

 

Published Date : 23-Jun-2020

Narasumber : Prof Dedi Sudarma, Beginer Subhan

Kata kunci : Terumbu Karang, Ikan Hias, Departemen ITK, FPIK, IPB University, dosen IPB

Laboratorium Selam Ilmiah (Lab SI) Divisi Hidrobiologi Laut Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University ajari tiga anak SD, SMP dan SMA teknik menyelam. Program ini masih baru bagi Lab SI, sebelumnya pelatihan menyelam ini hanya diberikan kepada mahasiswa atau dosen IPB University terutama yang mengambil mata kuliah selam ilmiah.

Hal ini disampaikan Kepala Lab SI, Beginer Subhan saat memperkenalkan program ini di Kampus Dramaga, Bogor (20/7). Menurutnya pelatihan selam dapat diberikan pada anak berusia minimal 10 tahun dengan persetujuan orang tua mereka tentunya.

Pelatihan selam dilakukan dalam tiga bagian yakni sesi akademik, sesi kolam dan sesi open water. Tiga sesi ini merupakan bagian yang tak terpisahkan yang harus dilalui oleh setiap peserta.

“Sebelum memulai pelatihan setiap peserta harus menyampaikan pernyataan tentang kesehatan dan sejarah kesehatan dan diketahui oleh orang tua atau wali,” tambah Dondy Arafat, Instruktur Selam dari Laboratorium Selam Ilmiah IPB University.

Materi selam Open Water Diver yang diberikan mengikuti standar IS0 24801-2 tentang Recreational Diving Services. Skill yang disampaikan dan diajarkan antara lain, cara membersihkan menggunakan masker snorkel dan alat-alat SCUBA, berbagi udara, cara melepas dan memasang alat SCUBA di dalam air, buoyancy, cara merawat alat, dan skill lainnya.

“Alasan kami mengijinkan dan meminta pelatihan selam adalah ada keinginan kami untuk bisa menyelam bersama anak-anak. Saya surprise melihat antusias anak-anak dalam mengikuti sesi kolam ini, tidak terlihat suasana tegang bahkan mereka sangat menikmati pemberian materi selam dari instruktur,” ungkap Maretha, salah satu orang tua peserta. (**/Zul)

 

Published Date : 25-Jul-2019

Narasumber : Dondy Arafat

Kata kunci : Lab Selam Ilmiah, Pelatihan Menyelam, SCUBA, Open Water Diver, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan FPIK, IPB University

IPB University menginisiasi Gerakan Selam Bagi Peyandang Disabilitas belum lama ini. IPB University bersama Forum Rektor Indonesia (FRI) melalui program Revolusi Mental yang diusung oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mengadakan webinar dan pelatihan menyelam dengan spesialisasi khusus pendamping penyandang disabilitas.

Direktur Kemahasiswaan dan Pengembangan Karir IPB University, Dr Alim Setiawan menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dari Gerakan Indonesia Mandiri dimana IPB University melaksanakan kegiatan CEO School dan IPB Voice Over.

“Kebetulan juga pelatihan ini digelar berdekatan dengan peringatan hari Disabilitas Internasional tanggal 3 Desember 2020 lalu,”tambahnya.

Dondy Arafat salah satu instruktur selam menyatakan bahwa siapapun bisa belajar selam asal ada keinginan dan mematuhi standar keamanan dan keselamatan.

“Kegiatan selam dan disabilitas memang sudah dilakukan sejak lama namun masih bersifat eventual saja. Hal ini karena sumber daya instruktur dan pendamping belum banyak tersedia, dimana kegiatan masih terkonsentrasi di Bali. Kami menyambut baik ketika IPB University mengadakan pelatihan untuk instruktur dan pendamping selam bagi penyandang difabel,” ujar instruktur trainer untuk instruktur dan pendamping penyelam difabel dari Bali ini.

Sementara itu, menurut Beginer Subhan, dosen IPB University yang juga Kepala Laboratorium Selam Ilmiah dan Pakar Terumbu Karang, IPB University menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang memiliki instruktur selam yang bisa menyelenggarakan pendidikan selam bagi penyandang difabel. (**/Zul)

 

Published Date : 16-Dec-2020

Narasumber : Dr Alim Setiawan, Beginer Subhan

Kata kunci : Selam, Difabel, IPB University, dosen IPB

Marine Science and Technology Diving School (MSTDS) IPB University mengadakan sertifikasi spesialisasi secara online. Sertifikasi online ini digelar oleh Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), (9/4) dan diikuti 15 orang peserta dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, alumni dan masyarakat umum yang berasal dari berbagai daerah.
“Sertifikasi spesialisasi yang dilakukan adalah Science of Diving (SOD) sehingga memang tidak memerlukan kegiatan lapangan. Tapi spesialisasi ini diperlukan oleh setiap penyelam terutama yang akan melanjutkan karir di dunia penyelaman secara profesional,” ungkap Beginer Subhan selaku Kepala Laboratorium Selam Ilmiah Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University.
Menurut pakar Terumbu Karang IPB University ini, hadirnya program ini tidak lepas dari dukungan Scuba School Internasional (SSI) yang memberikan program pelatihan gratis untuk material dan sertifikasi pada spesialisasi SOD. Keistimewaan dari pelatihan ini adalah dapat diikuti oleh berbagai level penyelaman dan boleh dari agensi lain di luar SSI.
“Sehingga kami mengajak para mahasiswa dan komunitas selam untuk mengikuti pelatihan ini,” ujarnya.
Sementara itu, menurut Marthen Welly alumni ITK IPB University sekaligus Instruktur Pelatihan, materi sertifikasi meliputi ilmu pengetahuan dasar yang terkait dengan kegiatan penyelaman yang dikupas lebih mendalam sehingga dapat menjadi bekal untuk jenjang berikutnya. Teori dasar seperti hukum fisika penyelaman, pengaruh kegiatan selam terhadap fisiologi manusia, dan kehidupan bawah laut dijelaskan secara mendalam.
“Pelaksanaan kegiatan ini memakan waktu cukup singkat yaitu kurang lebih tiga hingga enam jam,” imbuhnya.
Para peserta menyambut baik kegiatan pelatihan ini. “Saya sangat senang mengikuti pelatihan ini, banyak memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang kegiatan penyelaman dan membuat kami menjadi produktif,” ungkap Wijdan, mahasiswa ITK. (**/Zul)
Keyword: ITK, FPIK, Sertifikasi Spesialisasi Penyelaman, SSI, IPB University

Indonesia sudah dikenal sebagai tempat tujuan wisata bahari sejak lama. Industri wisata selam dan snorkling sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan tersebut bahkan beberapa lokasi selam menjadi top destinasi kelas dunia.

Untuk menjawab tantangan masa depan tentang kegiatan wisata bahari berkelanjutan sekaligus dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) 2020, Marine Science and Technology Diving School (MSTDS) Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) IPB University bekerjasama dengan Komunitas Selam ITC 018 melakukan diskusi dengan judul Kisah Selam Dive 3 (5/6). Kegiatan ini mengambil topik  “Menuju Industri Wisata Selam dan Snorkling Berkelanjutan”.

Diskusi online ini dihadiri kurang lebih 150 orang dari berbagai daerah di Indonesia yang terdiri  operator selam, dosen, penyelam profesional, peneliti dan mahasiswa.

Kegiatan ini menghadirkan Marthen Welly dari Coral Triangle Center dan sekaligus koordinator Greenfins Indonesia. Marthen menyampaikan bahwa pada saat ini, di tingkat dunia sudah banyak acuan yang bisa dipakai untuk menjadi panduan pelaksanaan industri selam berkelanjutan salah satunya yang dikembangkan oleh Greenfins.

Selanjutnya lulusan pascasarjana Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Lautan (SPL) IPB University  ini menerangkan bahwa Greenfins yang diinisiasi oleh United Nation Environment Programme (UNEP) ini merupakan gerakan sosial yang mengkampanyekan aktivitas wisata selam dan snorkling berkelanjutan yang sudah diimplementasikan di negara lain di dunia.

“Penting dan perlu untuk pelaku dan pengguna manfaat di industri wisata selam dan snorkling untuk mengetahui dan menjalankan hal-hal apa yang sudah dijalankan secara internasional dan tujuan akhirnya kegiatan wisata yang berkelanjutan,” imbuh anggota luar biasa Fisheries Diving Club (FDC) IPB University ini.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Laboratorium Selam Ilmiah ITK IPB University, Beginer Subhan, “Lingkungan khususnya terumbu karang merupakan modal dan menjadi atraksi utama sehingga praktek-praktek yang mendukung kelestarian kedua hal tersebut juga menjadi hal utama dan ini merupakan salah satu pencapaian SDG 14 Life Below Water,” ungkap dosen IPB University  yang merupakan pakar terumbu karang Indonesia ini. (**/Zul)

 

Published Date : 08-Jun-2020

Narasumber : Beginer Subhan

Kata kunci : Snorkling, Diving, Departemen ITK, IPB University, terumbu karang, dosen IPB, SDG 14, life below water

Marine Science and Technology Diving School (MSTDS) Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan (Himiteka) serta Komunitas ITC 2018 kembali gelar Kisah Selam seri ke enam, (16/6). Kali ini judul yang diangkat adalah “Kita Menyelam di Selayar Biar Nggak Ambyar”.

Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa dan masyarakat selam dengan pembicara Daeng Acca dari Selayar Dive and Adventure dan Andi Ridho dari Selayar Marine Dive.

“Kepulauan Selayar terdiri dari 130 pulau dengan segala keunikannya. Karakterisitik daerah penyelaman di Selayar ada berbagai tipe. Misalnya slope atau pun wall, tempat berbagai macam biota unik seperti karang lunak, ikan-ikan besar dan kipas laut. Ada sekitar 30an titik penyelaman yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Pantai Timur Selayar didominasi oleh daerah penyelaman yang berkarakter wall sedangkan di daerah barat, slope dan landai. Uniknya beberapa daerah titik selam dapat dikunjungi sepanjang tahun yaitu yang di daerah Pesisir Barat,” ujar Daeng Acca.

Sementara itu, Andi Ridho menyampaikan bahwa peran pemerintah daerah sangat besar dalam pembentukan sumberdaya manusia terutama penyelam-penyelam di Selayar. Sampai saat ini hampir semua penyelam di Selayar yang sudah dalam berbagai jenjang selam merupakan hasil pembinaan dan dukungan pemerintah daerah.

“Kegiatan selam di Selayar bisa dilakukan tidak hanya untuk wisata namun bisa juga dilakukan untuk penelitian. Saya sering mengantar tim peneliti dari IPB University dan Universitas Hasanuddin serta beberapa lembaga penelitian dan perguruan tinggi lainnya,” ujarnya.

Menurut Beginer Subhan, Pakar Terumbu Karang yang merupakan dosen IPB University, Selayar merupakan salah satu tempat untuk dikunjungi karena posisinya yang benar-benar di tengah Indonesia. Selain itu, Selayar juga termasuk salah satu tempat yang prestisius untuk dikunjungi karena terdapat Takabonerate yang merupakan Terumbu Karang dengan tipe Atol yang dimiliki oleh Indonesia.

 

 

Published Date : 23-Jun-2020

Narasumber : Daeng Acca

Kata kunci : Terumbu Karang, Kisah Selam, IPB University

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Marine Science and Technology Diving School (MSTDS), Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University mendapatkan penghargaan “Ecology Training Center Award 2020” dari Lembaga Selam Internasional, Scuba School International (SSI) melalui SSI Indonesia. Penghargaan diberikan awal Maret 2020.

“Kami sangat menyambut baik apresiasi dari SSI Indonesia ini. MSTDS ini merupakan salah satu program kami dalam menjawab tantangan masa depan terkait dengan kompetensi lulusan yang berhubungan dengan dunia kelautan secara langsung,” ungkap Beginer Subhan selaku kepala Laboratorium Selam Ilmiah Departemen ITK.

Menurut Prastiyono dari SSI, ini adalah penghargaan bagi MSDTS yang sangat berkomitmen dalam mengedukasi anggotanya dan juga masyarakat perihal kepedulian terhadap lingkungan berkelanjutan, khususnya lingkungan air. MSTDS sudah berafiliasi dengan SSI sejak tahun 2013 dengan no registrasi SSI Training Center 741116.

MSTDS adalah Dive School SSI yang berada di Perguruan Tinggi pertama di Indonesia, di mana sampai tahun 2019 sudah mensertifikasi lebih dari 200 orang penyelam baru. Dr Hawis Madduppa selaku pengelola mengatakan saat ini MSTDS memiliki lima instruktur yang terdiri dari dosen dan beberapa alumni kelautan yang bergerak di bidang lingkungan konservasi laut.

“Program selam yang ditawarkan bisa memberikan kompetensi lebih bagi lulusan IPB University. Yakni Marine Ecology, Dive Stress and Rescue, Fish Identification dan lain-lain. Kompetensi ini juga dapat menunjang kegiatan penelitian,” imbuh Pakar Ekologi Molekular IPB University ini dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Selain itu, MSTDS juga mengembangkan kegiatan Dive Trip yang dibalut dengan pengenalan konservasi laut. “MSTDS juga sudah melakukan trip penyelaman di Desa Pemuteran yang merupakan pusat pengembangan restorasi terumbu karang dengan teknologi Biorock dan Pulau Menjangan di Taman Nasional Bali Barat,” ungkap Dondy Arafat, instruktur selam MSTDS.

Sumber : https://republika.co.id/berita/q7vkcg374/sekolah-selam-ipb-raih-penghargaan-dari-ssi-indonesia

Penyakit karang adalah gangguan antara keadaan fisik, organ, atau sistem pada tubuh organisme sehingga tidak bekerja dengan baik. Penyakit ini disebabkan oleh agen seperti bakteri, virus atau macro-parasites. Bisa juga disebabkan oleh stres akibat perubahan lingkungan seperti terkena bahan kimia, polutan, kenaikan suhu terlalu panas atau penurunan suhu yang terlalu dingin,” ungkap Beginer Subhan, SPi, MSi, dosen IPB University dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dalam Pelatihan Webinar Penyakit Karang: Pencegahan serta Dampaknya bagi Ekosistem Laut”, (29/8).

Selain Beginer, pelatihan yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelauan (Himiteka) FPIK ini juga menghadirkan Dr Ofri Johan dari  Balai Riset Ikan Hias Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dr Ofri, perkiraan iklim terkait peningkatan suhu dan pemanfaatan data satelit Sea Surface Temperature dapat memprediksi terjadinya penyakit karang. Aksi manajemen langsung yang dapat dilakukan apabila terjadi outbreak penyakit karang yaitu dengan menutup area terumbu karang dari aktivitas manusia dan melakukan penanganan dengan menyedot jaringan pada karang yang terinfeksi penyakit menggunakan alat suntik.

Menurut M Asrof Abror J selaku Ketua Pelaksana, kegiatan ini bertujuan meningkatkan wawasan di bidang kelautan bagi pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum agar mengetahui dan dapat berkontribusi dalam mencegah terjadinya penyakit karang yang merugikan ekosistem laut. Kegiatan ini dihadiri oleh peserta dari berbagai instansi dan daerah, mulai dari Bandung, Jakarta, Bogor, Banten, Bojonegoro, Bali, Maluku dan Tebing Tinggi. (**/Zul)

Published Date : 02-Sep-2020

Narasumber : Beginer Subhan, SPi, MSi

Kata kunci : terumbu karang, dosen IPB

Sumber : ipb.ac.id